Mitologi hingga Kisah Cinta di Balik Perayaan “Holi” di India

Mitologi hingga Kisah Cinta di Balik Perayaan “Holi” di India

Jumat, 22 Maret 2019, 14.14


Jika Anda salah satu penggemar film Bollywood, video-video klip musik India, dan tayangan lainnya maka Anda tak akan asing lagi dengan adegan sekelompok orang berkumpul, bernyanyi,menari, sambil saling melemparkan air dan serbuk berwarna. Adegan ini menggambarkan perayaan Holi yang kerap digelar di India.

 Holi kini kian populer di mata dunia setelah beragam merk ternama seperti Sony dan Canon membuat iklan untuk produk mereka dengan menampilkan kemeriahan salah satu festival Hindu ini.

Tak hanya itu, Chris Martin dari band Coldplay pun sempat terlibat dalam tradisi Holi dalam video musiknya yang bertajuk "Hymn for the Weekend.

" Dilansir dari CNN Travel, di balik kemeriahan perayaan Holi, ada cerita mitologi hingga kisah cinta dibaliknya. Mari simak kisah selengkapnya.

Festival sambut musim semi 

Holi merupakan festival Hindu yang menandai awal musim semi yang dirayakan di seluruh India. Holi merupakan festival kuno yang konon terispirasi dari sebuah puisi yang disusun pada abad ke-4. 

Holi bahkan bahkan dikisahkan secara rinci dalam sebuah drama Sanskerta pada abad ke-7 bertajuk "Ratnavali", yang ditulis oleh kaisar India Harsha. 

Perayaan Holi selalu meriah. Saat itu anak-anak boleh memercikkan air kepada orang tua, wanita dapat menaburkan serbuk warna kepada para pria. Saat festival berlangsung semua orang berbaur dalam kebahagiaan dan tak lagi membedakan usia maupun kasta.

Kemudian pada malam hari masyarakat India akan mengunjungi teman dan keluarga. Holi juga telah ditetapkan sebagai libur nasional dan biasanya jatuh pada bulan Maret. Holi tahun ini jatuh pada hari Rabu (20/3/2019).

 Festival ini berlangsung sehari sebelum hari libur nasional di negara-negara bagian timur seperti Bengal Barat dan Odisha. Kemudian di beberapa negara bagian utara seperti Uttar Pradesh, perayaan berlangsung lebih dari seminggu. 

Akar mitologis 

Akar festival ini terletak pada legenda Hindu Holika, iblis perempuan, dan saudara perempuan iblis, Raja Hiranyakashayap.

 Hiranyakashayap percaya bahwa dia adalah penguasa alam semesta dan lebih unggul dari semua dewa. Namun putranya, Prahlad, merupakan pengikut dewa Wisnu, pemelihara dan pelindung alam semesta. 

Keputusan Prahlad untuk tak sependapat dengan ayahnya membuatnya harus meninggalkan Hiranyakashayap. 

Tak disangka, Hiranyakashayap mengutus Holika untuk membunuh Prahlad. Holika akan membawa Prahald ke api bersamanya. Hiranyakashayap berfikir Holika akan selamat karena Ia kebal terhadap api, sedangkan Prahald akan terbakar.

Tetapi rencana itu gagal. Prahlad diselamatkan oleh Wisnu dan Holika meninggal karena dia hanya kebal terhadap api jika dia sendirian. Segera setelah itu, Wisnu membunuh Hiranyakashayap dan mengangkat Prahlad menjadi raja.

 Nilai moral dari cerita ini adalah bahwa kebaikan akan selalu menang atas kejahatan. 

Kisah cinta di balik Holi

 "Saksikan keindahan festival dewa asmara besar yang membangkitkan keingintahuan ketika penduduk kota menari dan saling memercikkan air kecoklatan yang dilemparkan. Semuanya berwarna merah kekuningan dan dibuat berdebu oleh tumpukan bubuk wangi yang dihembuskan ke seluruh penjuru," tulis Harsha sebuah drama Sanskerta pada abad ke-7 bertajuk "Ratnavali". 

Tradisi melempar bubuk dan air berwarna diyakini berasal dari kisah cinta mitologis Radha dan Krishna. 

Krishna adalah dewa Hindu yang digambarkan seseorang dengan kulit biru tua. Menurut kisah itu, Krishna digambarkan kerap mengeluh kepada sang Ibu mengenai warna kulitnya yang tak secantik warna kulit Radha. 

Untuk meringankan kesedihan putranya, ibunda Krishna menyarankan agar Radha mengolesi kulitnya dengan cat agar menyerupai Krishna. 

Dari kisah ini diyakini bahwa kebiasaan masyarakat India mengolesi kulit orang yang dicintai dengan serbuk warna berasal.

Kuliah Beasiswa..?? Klik Disini

Gambar : Kompas.com
Sumber : Kompas.com

MostPopular